Senin, 09 Desember 2013

Ending

Bagaimana mestinya ? membuatmu jatuh hati, meyakinkanmu dan membuatmu percaya.
Haruskah ku tulis berjuta puisi, dan berjuta kata yang membuatmu mengerti dan membalas perasaan ini ?

Sejujurnya aku telah mencoba untuk ikhlas dan rela dengan keputusanmu yang tidak bisa menjadikanku sebagai kekasihmu. Aku paham, aku mengerti, karena itu prinsipmu yang harus aku hargai dan aku terima.

Namun sekarang...
Lain cerita, lain dan lain segala-galanya. Saat ku dengar kau sudah dengannya, kau lebih memilihnya.
Bahkan terlalu sakit bagiku, ketika kau bercerita, kebingunganmu bagaimana cara menyikapi mereka para pencintamu. Kau berkata padaku, terlalu sulit bagimu untuk memberi kepastian kepada mereka. Sungguh egois..

Bahkan pada salah seorang yang sudah benar-benar menyukaimu. Kau bilang tidak menyayanginya, kau bilang hanya karena kau takut menyakitinya.
Dan aku hanya terdiam...
Lalu bagaimana dengan aku ?
Menagapa kau bisa mempunyai rasa takut untuk menyakiti dia, tapi tidak ada rasa takut sedikitpun untuk menyakitiku ?

Lalu aku kau anggap apa ?
Aku yang jelas-jelas saat ini berada didepan matamu, duduk disampingmu dan mendengar semua ceritamu, yang sesungguhnya itu terlalu menyakitkan bagiku. Dan pada saat itu aku harus berpura-pura untuk tegar dan ceria. Maaf terlalu jujur..

Aku yang lebih dulu, bahkan aku orang yang selama ini memperjuangkanmu, bertahan demi kamu. Aku pikir letak kebahagiaanku ada padamu. Tapi sekarang ? apa ? apakah ini adil ? adilkah bagiku ?

Tapi apa ? sekarang apa buktinya ?
Kamu melanggar prinsipmu, kau terlalu cupu, tergoyah dengan semua itu. Aku tau, aku memang tidak berhak dan tidak seharusnya mengatakan ini. Toh itu hak kamu. Urusan kamu, itu hati kamu. Iya kan ? tapi itu memang harus kukatakan.

Seandainya dari awal kau jelaskan, kau katakan apa mau mu dan apa maksudmu. Mungkin itu bisa membuatku sedikit mengerti. Tapi sampai detik ini aku tidak tau apa maksudmu, apa arti dari ini semua. Dan itu yang membuat aku selalu bertanya-tanya. Retoris banget..

Perlahan-lahan kau hancurkan perasaan ini, entah bagaimana bentuknya hati yang aku miliki sekarang. Yang sudah berkalai-kali kau matikan. Dan kau tau ? kali ini sudah benar-benar mati.
Terima kasih..

Aku terima ? sungguh.
Iya aku terima, aku menyadari, tak ada lagi yang bisa aku lakukan untuk memperjuangkanmu kembali. Apalagi untuk terus bertahan.
Sampai kapanpun aku tidak akan mendapat ruang untuk menyinggahi hatimu. Aku tau, dan aku menyadari itu. Sangat dan sangat menyadari. Walaupun kamu sendiri, sudah terletak disudut hatiku.

Ini saatnya aku untuk mengalah, bahkan bukan hanya mengalah. Aku harus mundur.
Aku bukan siapa-siapa, dan aku bukan apa-apa. Aku yang harus pergi.
Dan kalian yang sekarang sedang bahagia, sampai kapanpun harus tetap bahagia.

Aku tau, inilah kenyataan, ini mungkin juga yang dinamakan cinta. Cinta yang tak pernah terlihat sedikitpun pengorbanannya olehmu.
Terima kasih sudah menjadikanku sebagai sahabatmu sekaligus bonekamu.
Terima kasih sudah menjadikanku perempuan yang paling bahagia disaat berada didekatmu.
Terima kasih sudah membangunkanku dari mimpi indah itu, sehingga sekarang aku tau, aku tidak boleh untuk terus bermimpi. Belajarlah menerima kenyataan seburuk apapun itu.
Terima kasih karena sudah membuatku cengeng.
Terima kasih sudah mengajarkanku arti kesabaran dan menjadikanku perempuan yang kuat.
Terima kasih sudah mau menerima nama paijo dariku.
Terima kasih untuk nama tukiyem yang telah kau beri.
Terima kasih atas cerita cerita indah dan menyakitkan.
Terima kasih sudah mau bercerita kepadaku, itu artinya kamu mempercayaiku.
Terima kasih untuk sabtu malam itu. Itu adalah malam yang paling bahagia sekaligus menyedihkan bagiku sepanjang sejarah perjalanan cintaku.
Terima kasih untuk sakit yang kau beri, semoga kamu tidak akan pernah merasakan sakit seperti yang aku rasa.
Terima kasih untuk semuanya...
Sekarang aku mohon..
Tolong pergi, pergi jauh dari hati dan pikiranku.
Aku mohon jangan ganggu, jangan ganggu aku lagi.
Jangan membuatku lebih gila dari ini.
Jangan biarkan aku terus menjadi perempuan yang bodoh.
Jangan biarkan hatiku yang sudah tidak berbentuk ini terus terpanah dan tertusuk jarum-jarum yang tajam.

Aku mohon, biarkan aku tenang dalam kehampaan ini. Biarkan aku mengubur luka ini.
Biarkan aku sembuhkan ini. Beri waktuku untuk sendiri. Maafkan aku yang sudah pernah menjadikanmu sebagai dewa cintaku...

Terima kasih J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar