Aku selalu bingung dan merasa
kesulitan, jika sudah menyangkut tentangmu. Aku tidak tahu harus memulai dari
mana untuk aku menulis ataupun
bercerita. Kepada selembar kertas dari sebuah pena. Ataupun dari bibirku kepada
manusia yang berada disekitarku.
Ribuan kosakata, bahkan bahasa
tubuh yang selalu aku gerak-gerikkan semakin membuat aku sendiri mumet. Bahkan mungkin
bukan hanya aku yang mumet, mereka pun terkadang mumet aku buat. Bahkan mungkin
bosan, jenuh, dan kesal mendengar cerita dan ocehanku yang itu-itu saja. Iya aku
tahu, dan aku menyadari itu.
Aku sendiripun heran, mengapa aku
begitu dan selalu begitu. Aku selalu bertanya-tanya dalam hati, haruskah aku
bertahan ? atau pergi ? Bukankah sudah seharusnya aku melupakan seseorang yang
sudah melukaiku berkali-kali ? walau yang melukaipun tak pernah menyadari. Dan
juga mencoba melepas, membiarkanmu pergi dan bahagia dengan pilihanmu saat ini.
Iya seharusnya.
Bukan malah diam-diam
memperhatikanmu, memperdulikanmu, mengkhawatirkanmu, cemas yang berlebihan,
bahkan bukan hanya itu. Rasa cemburu yang juga terkadang mengusik hati dan
jiwa. Pikiran berterbangan entah kemana dan selalu tidak menentu. Sebenarnya jikalau dipikir-pikir itu sangat lucu,
dan gelagak tawa pun keluar dari bibirku sendiri, seperti orang gila jika sudah
menyangkut ini. Demi apapun, saat ini aku tidak bisa menahannya. Tepat pukul
23:50, aku menulis ini sembari tertawa-tawa sendiri. Hahaha. *bukan bermaksud
untuk gila. Tapi memang sepertinya sudah, hehe. Sudah melewati fase kegilaan
itu maksud saya, paska kejadian beberapa waktu yang lalu.
Sebab apa ? yang aku cemburui itu
adalah pacarmu, sedangkan aku ? aku hanya saudaramu. Haha, iya kau bilang “kamu
itu saudaraku”. Pantaskah ? seorang sodara, mencemburui pacar saudaranya sendiri.
Hahaha wkwkwk. Tapi sebenarnya aku tidak perduli dengan itu semua, because kita
saudara jauh. Saudara baru jadi lah lebih tepatnya :D
Kesedihan yang hebat, dan kegalauan
yang berat kemarin, paska kudengar kau jadian dengannya kini sudah mulai mereda
dan perlahan memudar. Air mata mulai berganti dengan tawa. Rasa iri, cemburu
juga sudah tak sebesar pada saat itu. Belajar mengikhlaskan. Hehe. Namun aku
heran dengan rasa takut, entah kenapa dan mengapa rasa takut selalu
menyelubungi dinding hati, dan enggan pergi. Padahal aku sudah berkali-kali
melawannya, dan sudah kucoba mengusirnya. Tetapi tetap saja.
Masih misteri ? iya jelas masih
misteri, karena aku belum mendapatkan jawaban yang akurat dan berimbang tentang
rasa TAKUT itu. Sebenarnya takut kenapa ? dan kenapa ada rasa takut ?
entahlah~. Mungkin dicerita selanjutnya aku akan menemukan jawaban itu.
Untuk kali ini aku tidak bermaksud
untuk drama, bahkan bukan hanya kali ini, yang lalu-lalu pun aku tidak
mengartikannya sebagai drama. Hanya saja orang yang membacanya, yang tidak
mengetahui betul siapa aku, seperti kamu dan yang lain, pasti mengira ini itu
yang aku tulis adalah sebuah drama belaka, sandiwara, hiperbola, berlebihan,
lebay atau apapun itu. Dan bisa-bisa namaku juga berganti, menjadi Drama Queen. Sungguh nama yang indah J
Tapi tidaklah, sungguh aku tidak
ingin dengan nama itu. Karena aku bukan ratu drama. Hanya saja hatiku yang
terlalu perasa, dan otakku yang terlalu pemikir. Walau terkadang apa yang aku
rasa dan aku pikirkan itu tidak terlalu penting, tapi tetap saja kuteruskan. Sehingga
berujunglah seperti itu. Seperti itu, yaa berujung luka dan sedih.
Intinya sekarang, aku jelaskan
dengan sejelas-jelasnya, aku hanya SEMPAT berdrama. Itupun didepanmu saja. Dan hanya
sebentar.
Dan pada akhirnya ? kamu tahukan
apa yang aku rasakan sebenarnya ? aku jujur dengan semua-muanya. Iyalah, karena
apa ? aku tidak ingin menjadi manusia yang terus membohongi perasaanku sendiri.
Lama kelamaan juga enggak sanggup -__-
Setidaknya saat ini kau sudah tahu
siapa aku, setidaknya aku sudah jujur, sudah menunjukkan sikapku yang
sebenarnya. Kalau pada saat itu, aku hanya berusaha sok kuat, sok tegar, sok
happy, padahal dalam hati menangis. Dan aslinya lemah. * KEMARIN. Huaaa, malu
sedikit. Pada diri sendiri.
Tapi yasudahlah, yang lalu biarkan
berlalu. Dan yang rindu biarkan tetap merindu. Hehehe. Seperti aku yang selalu
merindukanmu. Entah apa yang aku rindukan, asli, bener aku gak tahu. Yang penting
rindu deh. Dan yang paling penting, sudah tidak berharap.
Tidak berdosakan merindukan pacar
orang ? *Ooh jelas tidaaak. *apaan sii wkwk. Dan tenang saja, rindunya
kadang-kadang saja kok. Jadi kamu tidak perlu khawatir. Dan lagi, aku kan tidak
mengganggu hubungan kalian, aku tidak merugikan pihak manapun, justru kamulah
yang diuntungkan. Kerena selalu dirindukan :D
Dan pada akhirnya aku tahu klimaks
cerita cinta ini. Cerita cintaku yang cukup menorehkan banyak persepsi dan
kegilaan. Hahaha
Selamat tinggal kesayanganku.
Selamat tinggal temanku.
Selamat tinggal masa laluku.
*sedikit berepetisi ;)
Dan selamat datang sodaraku.
Selamat datang juga masa depanku.
bye paii ku (
#`⌂´)/┌┛
Tidak ada komentar:
Posting Komentar