Sabtu, 02 November 2013

Harap Dalam Diam


Siang tadi hujan, hujan yang sangat deras. Disaat itu aku sedang dalam perjalanan pulang menuju rumah dari sekolah. Entah angin apa yang pada saat itu tiba-tiba menghampiriku.

Angin ? atau memang pada dasarnya otak dan hatiku ? yang tidak lain tidak bukan, mengingatkan aku padamu. Dalam hati aku bertanya “kamu dimana ? sedang apa ? dan apakah baik-baik saja ?” selalu pertanyaan itu yang keluar ketika aku mulai teringat dan merindukanmu.

Memang sesekali terjawab, saat aku melihatmu disekolah, bahkan dikelas. Karena memang kita satu kelas. Atau melihat kicauanmu muncul di time line twitterku. Darisitulah aku bisa memastikan kamu baik-baik saja.

Tapi terkadang rasanya terdengar konyol, dan aku terlihat bodoh disaat-saat seperti itu. Rasa khawatir yang berlebihan kepada seseorang yang bukan siapa-siapa ku. Iya bukan siapa-siapa. Hanya teman ! :’)
“Tapi Tuhan, aku ingin lebih” :’(

Sementara dia saja tidak tahu bagaimana perasaanku sebagai seseorang yang masih sangat menyayangi dan mangharapkannya. Dia tidak tahu bagaimana rasanya berada diposisiku sekarang. Tidak tahu dan tidak pernah mau tahu !!

Aku harus bagaimana ? Oh tuhan...
Apakah aku harus tetap memperjuangkan seseorang yang tidak sepantasnya aku perjuangkan ?
Apakah aku harus mempertahankan rasa ini tanpa aku harus berjuang dan tanpa dia tahu ?
Tapi apa jadinya bila aku terus begitu ?

Apakah aku harus Move On ? haha, iya move on !!
Itulah saran yang sudah terlalu sering mereka berikan kepadaku. Mereka teman-temanku.
Tapi tidak segampang itu. Terlalu sulit bagiku, apalagi aku bukan tipekal cewek yang gampang jatuh cinta. Sudah terlalu sering aku mencobanya, tapi nyatanya apa ? Itu hanya bertahan 4, 5 sampai 6 hari saja, bahkan tidak genap 1 minggu. *miris
Selalu saja hati ini kembali berpihak padamu.

Padahal tanpa kamu sadari, kamu sudah terlalu sering membuatku kecewa, membuatku bersedih , membuatku terluka,bahkan luka itu sudah terlalu dalam. Sudah terlanjur menjadi ukiran-ukiran yang sangat mengerikan bagiku, namun mungkin indah bagimu.

Seharusnya aku membencimu bukan ? mencoba melupakan segala tentangmu.
Tapi lagi-lagi aku tak bisa. Apa karena rasa sayang ini sudah terlalu besar ? sehingga benci saja tidak mampu mengalahkannya ?

Hmm...
Mengapa harapan-harapan kecil selalu saja muncul dan muncul lagi. Mengapa harapan yang justru membuat aku terus tersiksa ?
Dan mengapa aku berharap ?
Karena kamu. Iya kamu. Kamu yang dulu awalnya membuka harapan itu. Dan sampai sekarang harapan itupun masih melekat dan masih terus menyiksa.
Entah sampai kapan...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar