Rasanya aku
sudah tidak perlu lagi berbicara tentang harapan. Harapan yang aku harapkan
darimu. Karena selain Tuhan yang paling pertama mengetahui tentang harapanku, ada
kamu, kamu disana adalah orang pertama yang mengetahui apa harapan-harapanku,
mengetahui mimpi-mimpi indahku, mengetahui baik-burukku, mengetahui apa yang aku
suka dan apa yang aku benci, dan mengetahui segala-galanya tentangku, yang
bahkan melebihi orang yang sedarah denganku. Yaah, bisa aku berkata bahkan mereka
yang sedarah sekalipun tidak tahu apa-apa tentangku.
Kamu, dan kamu
adalah satu-satunya makhluk ajaib yang Tuhan kirimkan yang telah berhasil
membuat hidupku berubah sedrastis ini. Entahlah menjadi baik, sangat baik, atau
malah sebaliknya, buruk, atau bahkan sangat buruk. Yang jelas, inginku adalah
kita akan selalu baik-baik saja, dan bahkan lebih baik selamanya, bersatu, bersama,
berjalan, beriringan tanpa ada penghalang ataupun pemisah.
Kamu,
seandainya kamu tahu bagaimana perasaanku saat ini. Perasaan yang terlalu cepat
tumbuh dengan perasaaan cinta, perasaan yang terlalu berani mengungkapkan
perasaan cinta, perasaan yang seringkali terendap oleh perasaan rindu, perasaan
yang tidak tahu diri memendam sebuah perasaan harap, dan entahlah perasaan apa
yang dirasakan oleh gadis sepertiku ini. Gadis yang selalu kamu anggap tidak
tahu apa-apa, gadis manis & anggun yang selalu membuatmu rindu (katamu),
gadis tak berhidung, gadis cengeng… iyah, dan aku, inilah aku gadis yang tanpa
sadar ternyata terlalu nyaman berada disampingmu, terlalu nyaman ketika berada
dalam pelukanmu, dan terlalu tidak tahu diri ketika semakin menumbuhkan
perasaan cinta yang seharusnya tidak aku miliki, bahkan seharusnya jangan
sampai aku rasakan.
Kamu,
entahlah mengapa kamu rasanya menjadi satu-satunya alasan aku bahagia berada
disini. Walaupun sendiri. Dan kamu, satu-satunya laki-laki yang ingin aku
bahagiakan setelah Ayah & adik lelakiku. Dan kamu tahu? selain kamu menjadi
alasan bahagiaku, kamu juga menjadi alasan sedihku, sakitku, ketika kamu tiba-tiba
menghilang dan tiada kabar. Kau tahu? Jika aku mencari-cari? Tak tahu arah
kesana-kemari.
Seandainya kamu
tahu, seandainya kamu rasa apa yang aku rasa, apakah kamu bisa segera tegas
dengan sebuah keadaan? Apakah kamu bisa memilihku demi kebahagiaanmu? Jika memang
benar aku adalah sumber bahagiamu. Jika memang benar kau mencintaiku. Dan kau
juga harus tahu, kalau aku tidak seegois yang kamu pikirkan saat ini jika aku
berani berkata seperti itu. Kamu percaya? Bahwa aku juga akan mencintai apa
yang kamu miliki, tak terkecuali malaikatmu…
Namun bila
pada akhirnya harapanku darimu tidak terwujud, pada akhirnya kamu tidak
memilihku, pada akhirnya aku juga harus mati-matian melupakan, bukankah aku
harus menerima? Aku harus ikhlas… karena segala sesuatunya yang saat ini sedang
terjadi itu bergantung pada kamu, iya, setelah Tuhan sebagai maha penentu. Yang
terpenting adalah kita sudah berusaha. Dan kisah baru tetap akan menjadi sama
seperti kisah-kisah sebelumnya yang menyerangku. Abadi dan kusam hanya didalam
tulisan. Dan terlupakan logika juga perasaan…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar