Jumat, 18 Desember 2015

Seandainya Kamu Tahu

Rasanya aku sudah tidak perlu lagi berbicara tentang harapan. Harapan yang aku harapkan darimu. Karena selain Tuhan yang paling pertama mengetahui tentang harapanku, ada kamu, kamu disana adalah orang pertama yang mengetahui apa harapan-harapanku, mengetahui mimpi-mimpi indahku, mengetahui baik-burukku, mengetahui apa yang aku suka dan apa yang aku benci, dan mengetahui segala-galanya tentangku, yang bahkan melebihi orang yang sedarah denganku. Yaah, bisa aku berkata bahkan mereka yang sedarah sekalipun tidak tahu apa-apa tentangku.

Kamu, dan kamu adalah satu-satunya makhluk ajaib yang Tuhan kirimkan yang telah berhasil membuat hidupku berubah sedrastis ini. Entahlah menjadi baik, sangat baik, atau malah sebaliknya, buruk, atau bahkan sangat buruk. Yang jelas, inginku adalah kita akan selalu baik-baik saja, dan bahkan lebih baik selamanya, bersatu, bersama, berjalan, beriringan tanpa ada penghalang ataupun pemisah.

Kamu, seandainya kamu tahu bagaimana perasaanku saat ini. Perasaan yang terlalu cepat tumbuh dengan perasaaan cinta, perasaan yang terlalu berani mengungkapkan perasaan cinta, perasaan yang seringkali terendap oleh perasaan rindu, perasaan yang tidak tahu diri memendam sebuah perasaan harap, dan entahlah perasaan apa yang dirasakan oleh gadis sepertiku ini. Gadis yang selalu kamu anggap tidak tahu apa-apa, gadis manis & anggun yang selalu membuatmu rindu (katamu), gadis tak berhidung, gadis cengeng… iyah, dan aku, inilah aku gadis yang tanpa sadar ternyata terlalu nyaman berada disampingmu, terlalu nyaman ketika berada dalam pelukanmu, dan terlalu tidak tahu diri ketika semakin menumbuhkan perasaan cinta yang seharusnya tidak aku miliki, bahkan seharusnya jangan sampai aku rasakan.

Kamu, entahlah mengapa kamu rasanya menjadi satu-satunya alasan aku bahagia berada disini. Walaupun sendiri. Dan kamu, satu-satunya laki-laki yang ingin aku bahagiakan setelah Ayah & adik lelakiku. Dan kamu tahu? selain kamu menjadi alasan bahagiaku, kamu juga menjadi alasan sedihku, sakitku, ketika kamu tiba-tiba menghilang dan tiada kabar. Kau tahu? Jika aku mencari-cari? Tak tahu arah kesana-kemari.

Seandainya kamu tahu, seandainya kamu rasa apa yang aku rasa, apakah kamu bisa segera tegas dengan sebuah keadaan? Apakah kamu bisa memilihku demi kebahagiaanmu? Jika memang benar aku adalah sumber bahagiamu. Jika memang benar kau mencintaiku. Dan kau juga harus tahu, kalau aku tidak seegois yang kamu pikirkan saat ini jika aku berani berkata seperti itu. Kamu percaya? Bahwa aku juga akan mencintai apa yang kamu miliki, tak terkecuali malaikatmu…


Namun bila pada akhirnya harapanku darimu tidak terwujud, pada akhirnya kamu tidak memilihku, pada akhirnya aku juga harus mati-matian melupakan, bukankah aku harus menerima? Aku harus ikhlas… karena segala sesuatunya yang saat ini sedang terjadi itu bergantung pada kamu, iya, setelah Tuhan sebagai maha penentu. Yang terpenting adalah kita sudah berusaha. Dan kisah baru tetap akan menjadi sama seperti kisah-kisah sebelumnya yang menyerangku. Abadi dan kusam hanya didalam tulisan. Dan terlupakan logika juga perasaan…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar