Kamis, 31 Desember 2015

30 Desember



Hari ini adalah hari yang berbeda dengan hari di tahun lalu. Tapi hari ini adalah tanggal yang sama, bulan yang sama 30 Desember, dimana untuk kali pertama aku menuliskan tentang  perasaanku untuk dia. Menuliskan dengan perasaan yang dipenuhi dengan rasa takut, rasa khawatir, rasa tidak ingin, juga rasa kagum yang tidak bisa aku sembunyikan yang aku tunjukkan kepada dia.

Tuhan, dan segala benda apapun yang berada disekelilingku yang menjadi saksi pada detik itu. Bagaimana khawatirnya aku, bagaimana ketakutannya aku kepada perasaanku sendiri yang sebisa mungkin ingin aku tolak, karena aku tidak ingin memiliki perasaan itu. Sebuah perasaan yang menurutku mulai tidak wajar, ketika aku mulai memiliki rasa kagum rasa takjub. Rasa kagum & takjub yang entah bagaimana dan seperti apa wujudnya, tapi itu berakibat fatal, pada otak, hati, juga bibirku. Kalian tahu? Jika aku mulai memikirkannya walau tidak terlalu sering, aku mulai merasakan detak jantung yang lebih kencang dari biasanya ketika aku berada didekatnya, bibir mulai merekah riah ketika mendapat chat-chat yang lumayan panjang entah itu apa isinya, dan itu dari dia.

Sebenarnya aku sudah mulai curiga dengan itu, apakah itu beberapa tanda? Ah, tapi aku mencoba untuk tidak menanggapi perasaan aneh itu, aku terus mencoba melawan perasaan itu, aku pastikan bahwa itu hanya sebuah rasa kagum, rasa kagum yang aneh, karena akupun tidak paham apa sebenarnya yang aku kagumi dari makhluk Tuhan seperti dia. Namun kalian tahu? Perasaan ini kian hari kian aneh, kian hari kian kuat, akupun semakin keras untuk menolaknya, dan aku juga semakin benci dengan perilaku dia yang seakan tidak mendukung untuk aku menolak rasa aneh itu. Dan celakanya, semakin aku mencoba menolak semakian aku tidak bisa mengelak.  Lebih celakanya lagi aku pelan-pelan masuk, dan dia lebih kuat menarik. Pelan-pelan aku luluh, pelan-pelan aku runtuh. Aku mati-matian menolak, dan dia malah dengan senang hati menerima perasaan aneh yang sedang ingin aku buang jauh-jauh sebelum terlambat.
Dan ini gila, entah bagaimana prosesnya, sampai pada saat ini, dia berhasil menenggelamkan aku, dan akupun tenggelam semakin dalam, semakin dalam dan semakin jauh. Aku semakin tidak terarah. Aku seperti orang linglung, yang kebingungan mencari jalan pulang, karena aku lupa menandai pada saat ingin melangkah pergi. Saat ini aku terlunta-lunta disana. Ingin pulang, ingin kembali, sungguh aku bersumpah. Namun entahlah, mengapa dia tidak memberi kesempatan aku untuk pergi, memberi kesempatan untuk kita mencoba saling melepaskan dan mengikhlaskan.

Jujur, aku bahagia berada disana. Tapi entah bahagia macam apa, ketika ternyata sakit, perih, luka yang lebih sering aku rasa. Luka yang semakin dalam, perih yang semakin perih, sakit yang semain sakit, mengeringkan air mata. Apa artinya bahagia itu jika tidak lebih banyak dari rasa sakit, perih dan luka? Iya lebih banyak, jika kita samakan arti bahagia itu seperti angka. Sesak sekali dadaku menulis ini. Dari awal aku menulis satu kosakata, sampai pada akhirnya berjuta-juta kosakata sekalipun, laki-laki seperti dia aku rasa tidak akan mengerti. Dia tidak paham bagaimana terombang-ambingnya sebuah perasaan lugu yang saat ini menjadi kacau balau bercampur rasa kecewa dan rasa berdosa.

Dia tidak ingin melepaskanku, dia pun tidak membiarkanku pergi? Walau sebenarnya aku mempunyai perasaan yang mengeratkan ketidakinginan dia itu, tidak ingin dilepaskan dan tidak ingin dibiarkan pergi. Namun aku benar-benar ingin keluar, aku ingin pergi. Memang apa yang akan dia lakukan untukku? Apakah dia akan bertanggung jawab untuk perasaanku yang sudah berhasil dikacau balaukan? Apakah dia akan bertanggung jawab untuk perasaan yang sudah berhasil dia hancurkan pelan-pelan karena keadaan ini?

Tidak ada yang bisa disalahkan? Dia atau aku? kami berdua sama-sama bersalah.
Lalu bagaimana jika semuanya sudah membuat aku setidak waras ini? entah. Kalian mungkin lebih mengerti, kalian lebih paham, tentang ini, tentang perasaanku, perasaan seorang gadis yang selama ini kalian kenal.

Tuhan, aku, dan kalian mungkin tahu. Jika aku mengasihani orang yang tepat, tapi aku mencintai orang yang salah.

30 Desember tahun lalu, yang sangat berbeda dengan 30 Desember tahun ini.

Dariku, gadis berperasaan lugu yang berhasil kau buat jatuh hati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar