Hari ini adalah hari yang berbeda
dengan hari di tahun lalu. Tapi hari ini adalah tanggal yang sama, bulan yang
sama 30 Desember, dimana untuk kali pertama aku menuliskan tentang perasaanku untuk dia. Menuliskan dengan
perasaan yang dipenuhi dengan rasa takut, rasa khawatir, rasa tidak ingin, juga
rasa kagum yang tidak bisa aku sembunyikan yang aku tunjukkan kepada dia.
Tuhan, dan segala benda apapun
yang berada disekelilingku yang menjadi saksi pada detik itu. Bagaimana
khawatirnya aku, bagaimana ketakutannya aku kepada perasaanku sendiri yang
sebisa mungkin ingin aku tolak, karena aku tidak ingin memiliki perasaan itu. Sebuah
perasaan yang menurutku mulai tidak wajar, ketika aku mulai memiliki rasa kagum rasa takjub. Rasa kagum & takjub yang entah
bagaimana dan seperti apa wujudnya, tapi itu berakibat fatal, pada otak, hati,
juga bibirku. Kalian tahu? Jika aku mulai memikirkannya walau tidak terlalu
sering, aku mulai merasakan detak jantung yang lebih kencang dari biasanya
ketika aku berada didekatnya, bibir mulai merekah riah ketika mendapat
chat-chat yang lumayan panjang entah itu apa isinya, dan itu dari dia.
Sebenarnya aku sudah mulai curiga
dengan itu, apakah itu beberapa tanda? Ah, tapi aku mencoba untuk tidak
menanggapi perasaan aneh itu, aku terus mencoba melawan perasaan itu, aku
pastikan bahwa itu hanya sebuah rasa kagum, rasa kagum yang aneh, karena akupun
tidak paham apa sebenarnya yang aku kagumi dari makhluk Tuhan seperti dia.
Namun kalian tahu? Perasaan ini kian hari kian aneh, kian hari kian kuat, akupun
semakin keras untuk menolaknya, dan aku juga semakin benci dengan perilaku dia
yang seakan tidak mendukung untuk aku menolak rasa aneh itu. Dan celakanya,
semakin aku mencoba menolak semakian aku tidak bisa mengelak. Lebih celakanya lagi aku pelan-pelan masuk, dan dia lebih kuat menarik. Pelan-pelan aku luluh, pelan-pelan aku
runtuh. Aku mati-matian menolak, dan dia malah dengan senang hati menerima
perasaan aneh yang sedang ingin aku buang jauh-jauh sebelum terlambat.
Dan ini gila, entah bagaimana prosesnya, sampai pada saat ini, dia
berhasil menenggelamkan aku, dan akupun tenggelam semakin dalam, semakin dalam
dan semakin jauh. Aku semakin tidak terarah. Aku seperti orang linglung, yang
kebingungan mencari jalan pulang, karena aku lupa menandai pada saat ingin
melangkah pergi. Saat ini aku terlunta-lunta disana. Ingin pulang, ingin
kembali, sungguh aku bersumpah. Namun entahlah, mengapa dia tidak memberi
kesempatan aku untuk pergi, memberi kesempatan untuk kita mencoba saling
melepaskan dan mengikhlaskan.
Jujur, aku bahagia berada disana.
Tapi entah bahagia macam apa, ketika ternyata sakit, perih, luka yang lebih
sering aku rasa. Luka yang semakin dalam, perih yang semakin perih, sakit yang
semain sakit, mengeringkan air mata. Apa artinya bahagia itu jika tidak lebih
banyak dari rasa sakit, perih dan luka? Iya lebih banyak, jika kita samakan
arti bahagia itu seperti angka. Sesak sekali dadaku menulis ini. Dari awal aku
menulis satu kosakata, sampai pada akhirnya berjuta-juta
kosakata sekalipun, laki-laki seperti dia aku rasa tidak akan mengerti. Dia
tidak paham bagaimana terombang-ambingnya sebuah perasaan lugu yang saat ini menjadi
kacau balau bercampur rasa kecewa dan rasa berdosa.
Dia tidak ingin melepaskanku, dia
pun tidak membiarkanku pergi? Walau sebenarnya aku mempunyai perasaan yang
mengeratkan ketidakinginan dia itu, tidak ingin dilepaskan dan tidak ingin
dibiarkan pergi. Namun aku benar-benar ingin keluar, aku ingin pergi. Memang
apa yang akan dia lakukan untukku? Apakah dia akan bertanggung jawab untuk
perasaanku yang sudah berhasil dikacau balaukan? Apakah dia akan bertanggung
jawab untuk perasaan yang sudah berhasil dia hancurkan pelan-pelan karena
keadaan ini?
Tidak ada yang bisa disalahkan?
Dia atau aku? kami berdua sama-sama bersalah.
Lalu bagaimana jika semuanya
sudah membuat aku setidak waras ini? entah. Kalian mungkin lebih mengerti,
kalian lebih paham, tentang ini, tentang perasaanku, perasaan seorang gadis yang selama ini kalian kenal.
Tuhan, aku, dan kalian mungkin
tahu. Jika aku mengasihani orang yang tepat, tapi aku mencintai orang yang
salah.
30 Desember tahun
lalu, yang sangat berbeda dengan 30 Desember tahun ini.
Dariku, gadis berperasaan lugu yang berhasil kau buat jatuh hati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar