Kamis, 31 Desember 2015

Kalian



Untuk kalian yang selalu mendo’akanku, untuk kalian yang selalu menyayangiku dengan tulus, untuk kalian yang selalu menginginkan hal terbaik berpihak dalam hidupku, untuk kalian yang berharga bagiku, untuk kalian yang menginginkan kebahagiaanku, untuk kalian yang mungkin sampai saat ini dan sampai kapanpun akanselalu ada untukku, dan untuk kalian yang sering kali tidak mengerti aku. Aku ingin bertanya, apakah kalian masih sadar dengan keberadaanku? Apakah kalian masih melihat aku sebagai sesuatu yang harus kalian jaga? Apakah kalian masih melihatku sebagai sesuatu yang harusnya kalian tanggung jawabi?Apakah kalian masih melihatku sebagai sesuatu yang harusnya kalian perhatikan? Apakah kalian masih melihatku sebagai seseorang yang harusnya kalian semangati, kalian dukung, kalian dorong untuk aku menggapai cita-citaku. Apakah aku masih menjadi seseorang yang berharga untuk kalian, yang seringkali aku berharap kalian tanyai kabarku. Apakah kalian masih menganggapku???

Mungkin memang benar anggapan kalian terhadapku, bahwa aku sudah dewasa tapi masih kanak-kanak, egois, keras kepala, dan tidak mau mendengar nasehat-nasehat baik dari kalian, yang seringkali mengaku sayang berbicara dihadapanku. Karena jika aku dewasa, mungkin aku tidak akan menuliskan ini, mungkin aku tidak akan melontarkan kata-kata yang tidak seharusnya aku lontarkan. Tapi apapun itu, aku tidak perduli. Yang terpenting saat ini adalah, dadaku yang sesak bisa terlepas lega, ingusku yang keluar dari hidung bisa ku elap pelan-pelan, dan air dipipi yang entah jatuhnya dari mana bisa kering lama-lama.

Jujur, entahlah apa yang aku rasakan saat ini benar adanya atau memang aku salah. Tapi aku berharap segala dugaan yang ada dalam benakku tentang kalian yang aku rasa rasa sayangnya begitu sedikit terhadapku saat ini, semoga salah. Iya semoga dugaanku salah. Semoga dugaanku tidak benar. Semoga aku yang berdosa karena aku telah berprasangka buruk kepada kalian. Sebenarnya apa yang kalian pikirkan tentang aku? apa yang ada dibenak kalian tentang aku? apakah kalian masih menganggapku seburuk itu? apakah kalian tidak menyadari mengapa peristiwa buruk itu bisa terjadi? Dan mengapa aku bisa berada disana, dan bahkan aku tenggelam sangat dalam.

Apa ini salahku? Apa ini karena diamku? Apa karena kalian tidak pernah bertanya kepadaku? Ooh bukan, maksudku sangat jarang menanyaiku. Apa karena itu? apakah kalian melihatku sebagai gadis yang sudah sangat mandiri? Kuat, tegar, bisa melakukan apapun tanpa kalian bantu? Bisa menghadapi apapun tanpa kalian dukung? Sementara aku, aku bukankah seringkali mengeluh ini itu dihadapan kalian, mencurahkan isi hati terkadang, tapi memang aku menjadi sangat jarang bercerita, malas rasanya, karena apa? Karena kalian sering kali tidak menanggapi ceritaku, tidak membantu apa yang menjadi kesulitanku, tidak memberi solusi yang setidaknya bisa membuat aku keluar dari salah satu masalahku. Menyebalkan. Iya, bukankah itu sangat menyebalkan? Seringkali tak ada respond baik yang membuat aku merasa lebih baik setelah aku bercerita. “Oh.. iya? Jadi?” hanya seperti itu? kalian sepelekan kata demi kata yang terucap dari bibirku.

Apakah kalian sadar? Apakah kalian merasa? Mengapa aku lebih banyak bercerita kepada orang lain dibanding kalian? Karena apa? Karena mereka lebih sering bertanya kepadaku dibanding kalian. Mereka lebih ingin tahu bagaimana perasaanku bekerja ditempat baru, , mereka lebih ingin tahu apa yang aku suka dan apa yang aku benci,mereka ingin tahu makanan kesukaanku, mereka ingin tahu siapa saja teman dekatku mereka lebih memahamiku karena keKEPOan mereka. Yaa tapi setidaknya, aku menjadi tahu. Kalau mereka lebih perduli terhadapku dibanding kalian. Memang entahlah, belum diketahui, mereka itu siapa. Tapi memang begitu kenyataannya.

Janganlah selalu menganggap aku buruk, janganlah selalu menganggap aku seseorang yang selalu merepotkan kalian, ini itu segala-galanya. Tapi lihatlah sedikit saja bagaimana rasa maluku karena tidak meminta kepada kalian, lihatlah yang mungkin ada sedikit dimata kalian bagaimana perjuanganku untuk berjalan meneruskan mimpi tanpa dukungan kalian. Lihatlah sedikit bagaimana perjuanganku untuk mendapatkan ini itu yang aku mau sendiri. Dan seandainya kalian tahu, bagaimana saat ini aku sakit, tertatih-tatih ingin keluar dari sana, ingin pergi jauh dari sana, ingin melarikan diri dari sana, ingin segera keluar dan menepi dari sana, tempat yang sampai saat ini masih menenggelamkanku. Teramat sangat dalam. Apakah kalian tahu? Rasanya ingin mati berada diantaranya.

Aku memang bukan anak yang baik. Tapi aku juga bukan anak yang jahat, atau anak pembangkang karena tidak mengikuti apa kata kalian. Aku hanya ingin kalian mengerti, aku hanya ingin kalian paham. Aku ingin kalian menjadi sahabatku. Menjadi teman ceritaku. Menjadi tempat aku mengadukan segala kisah. Menjadi tempat aku menghancurkan rasa sepi, karena ada kalian. Ada kalian yang memberi kehangatan disetiap rasa sepi dan rasa sendiri itu datang. Aku, kamu, kita semua disini adalah 1 darah. Darah lebih kental daripada air. Dan kalian lebih dekat denganku daripada mereka. Tapi mengapa kalian rasanya sangat jauh dariku walaupun kita sama-sama berada disini. Apa ini salahku? Apa ini karena diamku? Apa karena diam kalian yang sama sekali tidak mengerti aku? Maaf jika pemikiranku terlalu jahat, hatiku terlalu sempit. Maaf jika aku merasa kalian tidak menyayangiku. Maafkan aku...

Aku harap kalian tidak akan pernah menemukan coretan-coretan yang tidak penting ini, aku harap kalian tidak akan menemukan dan membacanya.

Untuk kalian yang selalu aku sayang diam-diam.
Untuk kalian, bagian dalam hidupku yang tidak akan pernah menjadi mantan.

30 Desember



Hari ini adalah hari yang berbeda dengan hari di tahun lalu. Tapi hari ini adalah tanggal yang sama, bulan yang sama 30 Desember, dimana untuk kali pertama aku menuliskan tentang  perasaanku untuk dia. Menuliskan dengan perasaan yang dipenuhi dengan rasa takut, rasa khawatir, rasa tidak ingin, juga rasa kagum yang tidak bisa aku sembunyikan yang aku tunjukkan kepada dia.

Tuhan, dan segala benda apapun yang berada disekelilingku yang menjadi saksi pada detik itu. Bagaimana khawatirnya aku, bagaimana ketakutannya aku kepada perasaanku sendiri yang sebisa mungkin ingin aku tolak, karena aku tidak ingin memiliki perasaan itu. Sebuah perasaan yang menurutku mulai tidak wajar, ketika aku mulai memiliki rasa kagum rasa takjub. Rasa kagum & takjub yang entah bagaimana dan seperti apa wujudnya, tapi itu berakibat fatal, pada otak, hati, juga bibirku. Kalian tahu? Jika aku mulai memikirkannya walau tidak terlalu sering, aku mulai merasakan detak jantung yang lebih kencang dari biasanya ketika aku berada didekatnya, bibir mulai merekah riah ketika mendapat chat-chat yang lumayan panjang entah itu apa isinya, dan itu dari dia.

Sebenarnya aku sudah mulai curiga dengan itu, apakah itu beberapa tanda? Ah, tapi aku mencoba untuk tidak menanggapi perasaan aneh itu, aku terus mencoba melawan perasaan itu, aku pastikan bahwa itu hanya sebuah rasa kagum, rasa kagum yang aneh, karena akupun tidak paham apa sebenarnya yang aku kagumi dari makhluk Tuhan seperti dia. Namun kalian tahu? Perasaan ini kian hari kian aneh, kian hari kian kuat, akupun semakin keras untuk menolaknya, dan aku juga semakin benci dengan perilaku dia yang seakan tidak mendukung untuk aku menolak rasa aneh itu. Dan celakanya, semakin aku mencoba menolak semakian aku tidak bisa mengelak.  Lebih celakanya lagi aku pelan-pelan masuk, dan dia lebih kuat menarik. Pelan-pelan aku luluh, pelan-pelan aku runtuh. Aku mati-matian menolak, dan dia malah dengan senang hati menerima perasaan aneh yang sedang ingin aku buang jauh-jauh sebelum terlambat.
Dan ini gila, entah bagaimana prosesnya, sampai pada saat ini, dia berhasil menenggelamkan aku, dan akupun tenggelam semakin dalam, semakin dalam dan semakin jauh. Aku semakin tidak terarah. Aku seperti orang linglung, yang kebingungan mencari jalan pulang, karena aku lupa menandai pada saat ingin melangkah pergi. Saat ini aku terlunta-lunta disana. Ingin pulang, ingin kembali, sungguh aku bersumpah. Namun entahlah, mengapa dia tidak memberi kesempatan aku untuk pergi, memberi kesempatan untuk kita mencoba saling melepaskan dan mengikhlaskan.

Jujur, aku bahagia berada disana. Tapi entah bahagia macam apa, ketika ternyata sakit, perih, luka yang lebih sering aku rasa. Luka yang semakin dalam, perih yang semakin perih, sakit yang semain sakit, mengeringkan air mata. Apa artinya bahagia itu jika tidak lebih banyak dari rasa sakit, perih dan luka? Iya lebih banyak, jika kita samakan arti bahagia itu seperti angka. Sesak sekali dadaku menulis ini. Dari awal aku menulis satu kosakata, sampai pada akhirnya berjuta-juta kosakata sekalipun, laki-laki seperti dia aku rasa tidak akan mengerti. Dia tidak paham bagaimana terombang-ambingnya sebuah perasaan lugu yang saat ini menjadi kacau balau bercampur rasa kecewa dan rasa berdosa.

Dia tidak ingin melepaskanku, dia pun tidak membiarkanku pergi? Walau sebenarnya aku mempunyai perasaan yang mengeratkan ketidakinginan dia itu, tidak ingin dilepaskan dan tidak ingin dibiarkan pergi. Namun aku benar-benar ingin keluar, aku ingin pergi. Memang apa yang akan dia lakukan untukku? Apakah dia akan bertanggung jawab untuk perasaanku yang sudah berhasil dikacau balaukan? Apakah dia akan bertanggung jawab untuk perasaan yang sudah berhasil dia hancurkan pelan-pelan karena keadaan ini?

Tidak ada yang bisa disalahkan? Dia atau aku? kami berdua sama-sama bersalah.
Lalu bagaimana jika semuanya sudah membuat aku setidak waras ini? entah. Kalian mungkin lebih mengerti, kalian lebih paham, tentang ini, tentang perasaanku, perasaan seorang gadis yang selama ini kalian kenal.

Tuhan, aku, dan kalian mungkin tahu. Jika aku mengasihani orang yang tepat, tapi aku mencintai orang yang salah.

30 Desember tahun lalu, yang sangat berbeda dengan 30 Desember tahun ini.

Dariku, gadis berperasaan lugu yang berhasil kau buat jatuh hati.

Jumat, 25 Desember 2015

Beri Aku Pilihan

Tuhan ku yang kusayang...
Engkau yang paling tahu apa isi hati didalam diamku, dalam bibir yang tertutup rapat disetiap harinya aku berada disini, bertemu dengan mereka orang-orang yang menyebalkan. 
Kau tahu Tuhan, dalam diam yang penuh harap, disana ada doa. Doa pasrah saat ini karena aku tidak mempunyai pilihan apapun agar aku bisa pergi dan tidak berada disini lagi. Aku hanya berharap, pagi ini akan ada pelangi yang menjemputku, dan membawaku kemanapun aku mau. Membebaskanku dari gelap dan abu-abu.

Selasa, 22 Desember 2015

Karena Aku Tahu Diri

Saat seperti ini membuat aku semakin sadar. Bukan tidak mengerti, bukan tidak memahami. Justru aku mengerti, justru aku paham. Bahwa memang, segala sesuatu yang aku inginkan itu tidak bisa dipaksakan, tidak bisa terwujudkan. Sadar diri dan sadar dari diri sendiri. Dari perasaan dari logika. Bukan karena kamu. Bukan juga karena anggapanku, mengira kamu melupakan aku. Tapi karena memang aku sadar.

Jangan ganggu aku lagi. Aku ingin hidup tenang. Jangan datang lagi walaupun aku meminta.
Aku sangat butuh kamu. Tapi aku sadar. Iya semakin sadar. Disana ada yang lebih membutuhkan kamu dibanding aku. Bukan hanya putri kecil, tapi ratu yang harus kamu layani dan kamu manjakan.

Karena apa. Karena aku sadar. Aku harus tahu diri. Hati memang sesak, rasanya sulit terbuka, rasanya sulit tersentuh oleh siapapun dan oleh keadaan apapun, semenjak jatuh cinta kepadamu, rasanya hati mengeras dan membeku tak merasa apapun kecuali kamu. Tapi mata. Mataku sudah mulai terbuka.

Karena apa?karena aku sadar...
Kau bukan lagi hanya menjadi seorang laki-laki, kamu adalah seorang ayah dari putri kecilmu. Hatiku memang tidak tersentuh, tapi mataku terbuka. Dan aku juga melihat putrimu yang membutuhkanmu. Aku juga menyayanginya.
Karena apa?karena aku sadar. Aku harus tahu diri. Aku bukan siapa-siapamu yang berhak meminta waktumu. Jujur, aku malu...

Aku berjuang, aku bertahan, tapi aku juga sakit, aku disini kelelahan, aku disini kesepian, aku disini kebingungan ketika aku sedih menangis pilu tak ada pundakmu yang biasa kujadikan sandaran.

Ini sudah terlalu jauh, ini sudah terlalu dalam. Hatiku ketakutan, dipenuhi kegelisahan karena tak kunjung mendapat kepastian. Bukan aku tidak mengerti bukan aku tidak memahami, tapi justru aku mengerti dan aku paham. Walaupun aku sadar, kita saling sadar bahwa kita sudah terlampau jauh, kita terlampau dalam, tapi aku rela, aku mencoba rela untuk ditinggalkan. Karena apa?karena aku sadar. Aku tahu diri.

Aku mengerti, aku memahami, maka aku memilih mundur. Aku takut, aku tidak ingin sendirian. Tanpamu, tanpa kamu. Aku butuh, sangat membutuhkanmu. Tapi kenapa? Karena aku sadar. Aku tahu diri...


Jumat, 18 Desember 2015

Seandainya Kamu Tahu

Rasanya aku sudah tidak perlu lagi berbicara tentang harapan. Harapan yang aku harapkan darimu. Karena selain Tuhan yang paling pertama mengetahui tentang harapanku, ada kamu, kamu disana adalah orang pertama yang mengetahui apa harapan-harapanku, mengetahui mimpi-mimpi indahku, mengetahui baik-burukku, mengetahui apa yang aku suka dan apa yang aku benci, dan mengetahui segala-galanya tentangku, yang bahkan melebihi orang yang sedarah denganku. Yaah, bisa aku berkata bahkan mereka yang sedarah sekalipun tidak tahu apa-apa tentangku.

Kamu, dan kamu adalah satu-satunya makhluk ajaib yang Tuhan kirimkan yang telah berhasil membuat hidupku berubah sedrastis ini. Entahlah menjadi baik, sangat baik, atau malah sebaliknya, buruk, atau bahkan sangat buruk. Yang jelas, inginku adalah kita akan selalu baik-baik saja, dan bahkan lebih baik selamanya, bersatu, bersama, berjalan, beriringan tanpa ada penghalang ataupun pemisah.

Kamu, seandainya kamu tahu bagaimana perasaanku saat ini. Perasaan yang terlalu cepat tumbuh dengan perasaaan cinta, perasaan yang terlalu berani mengungkapkan perasaan cinta, perasaan yang seringkali terendap oleh perasaan rindu, perasaan yang tidak tahu diri memendam sebuah perasaan harap, dan entahlah perasaan apa yang dirasakan oleh gadis sepertiku ini. Gadis yang selalu kamu anggap tidak tahu apa-apa, gadis manis & anggun yang selalu membuatmu rindu (katamu), gadis tak berhidung, gadis cengeng… iyah, dan aku, inilah aku gadis yang tanpa sadar ternyata terlalu nyaman berada disampingmu, terlalu nyaman ketika berada dalam pelukanmu, dan terlalu tidak tahu diri ketika semakin menumbuhkan perasaan cinta yang seharusnya tidak aku miliki, bahkan seharusnya jangan sampai aku rasakan.

Kamu, entahlah mengapa kamu rasanya menjadi satu-satunya alasan aku bahagia berada disini. Walaupun sendiri. Dan kamu, satu-satunya laki-laki yang ingin aku bahagiakan setelah Ayah & adik lelakiku. Dan kamu tahu? selain kamu menjadi alasan bahagiaku, kamu juga menjadi alasan sedihku, sakitku, ketika kamu tiba-tiba menghilang dan tiada kabar. Kau tahu? Jika aku mencari-cari? Tak tahu arah kesana-kemari.

Seandainya kamu tahu, seandainya kamu rasa apa yang aku rasa, apakah kamu bisa segera tegas dengan sebuah keadaan? Apakah kamu bisa memilihku demi kebahagiaanmu? Jika memang benar aku adalah sumber bahagiamu. Jika memang benar kau mencintaiku. Dan kau juga harus tahu, kalau aku tidak seegois yang kamu pikirkan saat ini jika aku berani berkata seperti itu. Kamu percaya? Bahwa aku juga akan mencintai apa yang kamu miliki, tak terkecuali malaikatmu…


Namun bila pada akhirnya harapanku darimu tidak terwujud, pada akhirnya kamu tidak memilihku, pada akhirnya aku juga harus mati-matian melupakan, bukankah aku harus menerima? Aku harus ikhlas… karena segala sesuatunya yang saat ini sedang terjadi itu bergantung pada kamu, iya, setelah Tuhan sebagai maha penentu. Yang terpenting adalah kita sudah berusaha. Dan kisah baru tetap akan menjadi sama seperti kisah-kisah sebelumnya yang menyerangku. Abadi dan kusam hanya didalam tulisan. Dan terlupakan logika juga perasaan…

Minggu, 06 Desember 2015

Hati

Wahai hati, tenanglah, tenang dan bersabarlah.
Percayalah, kamu akan kembali baik-baik saja sampai kapanpun.
Aku, aku akan menjagamu dimanapun dan dari siapapun, bahkan dari diriku sendiri yang sering kali tak terkendali tiba-tiba menyayatmu hingga kau berdarah terluka parah.

Tuhanku...

Wahai Tuhan penguasa alam, tolong bantu aku...
Bantu aku menghentikan air mata ini.
Bantu aku menghentikan kesedihan ini.
Bantu aku menghentikan drama ini.
Bantu aku melupakan kepedihan ini.
Bantu aku melupakan rasa benci.
Bantu aku menutup mata ini dari semua pandanganku.
Bantu aku menutup hati ini dari siapapun terkecuali engkau.

Wahai Tuhan penguasa Alam, tolong pegangi aku, genggam erat aku. Jangan biarkan aku jatuh, jangan biarkan aku jatuh terlalu dalam pada ladang dosa yang terkutuk yang engkau benci.
Wahai Tuhan penguasa alam, beri aku, beri aku hati yang ikhlas untuk mengikhlaskan. Hati yang ikhlas untuk melepaskan dan hati yang ikhlas untuk dilepaskan.

Wahai Tuhan penguasa alam, bantu aku, bantu aku untuk berdamai dengan keadaan dan bantu aku untuk mendamaikan hati yang rumit dan terlanjur sakit.

Wahai Tuhan penguasa alam, bantu aku, bantu aku jauh dari rasa penyeselan karena pertemuan dengan orang-orang yang tidak aku inginkan. Biarkan aku  mengerti, aku paham tanpa menyalahkan bahwa ini memang takdirmu untukku, ini jalan indah nan terjal yang harus aku lalui.

Wahai Tuhan penguasa alam, berikan aku pemikiran yang jernih, hati yang bersih yang selalu berprasangka baik kepada engkau, bahwa rencanamu ini sesungguhnya akan indah nanti untukku melebihi rencanaku. Jangan biarkan aku berfikir pertemuan semacam ini dengan mereka adalah musibah, biarkanlah aku mengangap anugrah walau nyatanya menyisakan luka parah.

Wahai Tuhan penguasa alam, bimbinglah aku, tuntunlah hatiku, jauhkan dan sembuhkan aku dari kemunafikan. Genggam erat aku, pegangi aku agar aku tidak jatuh. Jangan biarkan aku terus berjalan menyesatkan cintaku.

Wahai Tuhan penguasa alam yang mengatur hidupku, kupasrahkan segala urusanku kepadamu, engkaulah maha kuasa yang pandai membolak-balikkan hati. Sembuhkan hati yang tersakiti, hilangkanlah rasa benci, hilangkanlah rasa sesak yang selalu memberontak, bantu aku untuk memaafkan segalanya.

Wahai Tuhan penguasa alam, tuntunlah aku, tuntunlah hatiku, dan maafkan aku Tuhan, seorang hamba yang tidak tahu malu selalu meminta dan merengek namun mengulangi kesalahan yang sama dan tiada henti berbuat dosa.


Rabu, 16 September 2015

Untuk Sahabat



Wahai sahabat hati, dimana dirimu ? sudah lama aku tak nampak, sesekali kita hanya bertegur sapa, tersenyum, saling menanyakan kabar, saling mengatakan rindu, lalu tiba-tiba kita sama-sama menghilang.

Sahabat,  tahukah dirimu ?jika disini aku sangat merindukanmu, sangat mengharapkan hadir dirimu saat bahagia ataupun sedihku, aku ingin sekali memelukmu, bercerita ini itu semua tentangku juga tentangmu, tentang mimpi-mimpi kita yang ingin kita rangkai bersama.

Dan sahabatku, tahukah dirimu ? begitu bangganya diriku melihat perubahanmu saat ini, iya bangga dan bahagia. Aku tidak perlu lagi khawatir berlebihan kepadamu, seperti dulu. Aku hanya cukup menitipkanmu kepada Allah lewat doa-doa yang aku harap akan sampai kepadamu. Dan justru saat ini, malah aku begitu khawatir pada diriku sendiri. Entahlah karena apa, sulit dan malu rasanya ingin bercerita kembali tentang itu.

Aku tahu, ketidakdapatan hadirmu ataupun hadirku disetiaap saat, setiap waktu yang selalu kita butuhkan itu bukan karena keinginan kita, bukan karena hati kita yang telah berjarak, namun memang karena kesibukanmu dan kesibukanku yang membuat kita terpaksa harus melangkah sendiri-sendiri seperti saat ini.

Dan kamu tahu ? jujur, hatiku sedikit cemburu kepada teman-temanmu disana yang selalu ada menemani disetiap harimu, yang bisa membuatmu lebih bahagia, menyaksikan tawa senyummu, yang bisa membuatmu lebih nyaman, yang lebih bisa membuatmu  menjadi lebih baik dibanding aku dan iya aku cemburu… aku cemburu sayang… maaf, maafkan aku.

Adakah engkau disana masih merindukan aku ? merindukan hadirnya diriku ? adakah dirimu masih menggenggam erat tanganku dari kejauhan ? menggenggamku dengan doa ? ada ? maaf, jika aku sedikit berprasangka tidak baik padamu sahabat. Aku hanya merasa kita jauh saat ini, kita seperti melepas genggaman kita pelan-pelan. Dan aku tidak ingin itu terjadi, aku tidak ingin kita saling pergi.

Sahabatku sayang…
Aku rindu, aku rindu padamu, dan aku, aku menyayangimu… dan maafkan pengakuanku.