Aku pikir cerita ini sudah berakhir. Aku
pikir cerita ini tidak akan pernah kembali apalagi terulang. Jelas aku
menginginkan hal itu. Menginginkan semuanya pergi, menghilang tanpa satu
jejakpun. Tapi ternyata, kamu tiba-tiba datang, kamu mengingatkan aku kembali
dengan berjuta-juta memori yang perlahan juga sedang aku pendam.
Itulah tepatnya, beberapa bulan silam.
Jujur, aku sedikit dikagetkan dengan messenger darimu itu. Entah bahagia
tingkat apa yang aku rasakan pada saat itu, baru aku baca 1 kalimat dengan
ungkapan “apakabar ?” senangnya sudah keterlaluan. Bahkan bukan hanya kalimat
sesingkat itukan yang kamu tuliskan ? kita sempat mengobrol dengan panjangnya
dibbm. Entah apa yang kita bahas. Tapi sekali lagi jika aku boleh jujur, itu
sangat membuat aku bahagia. Rasanya aku tidak ingin mengakhiri pembicaraan yang
terkesan aneh, lucu dan konyol itu. Menurutku tentunya, tidak tahu denganmu.
Yaa begitulah, setelah sekian lama aku tidakmerasakan tawa lepas yang asal
muasalnya itu darimu. Mungkin sudah hampir satu setengah tahunan kita tidak
berkomunikasi. Jangankan komunikasi, menyapa saja tidak. Paling tersenyum,
itupun hanya sesekali. Padahal bertemu hampir setiap hari, tapi memanglah aku
sadar senyummu itu sangat mahal.
Yaa mungkin juga semahal waktu yang kamu
berikan saat bbm kemarin itu. Hanya berlangsung beberapa hari, 2 entah 3, dan
setelah itu kau kembali menghilang bagai ditelan dinosaurus. Lalu datang lagi,
pergi lagi, datang lagi, pergi lagi, datang pergi datang pergi bak angin yang
ditiup-tiup dan dihirup-hirup sang bumi. Haha ...
Aku tahu, kamu memang sibuk dengan
pekerjaanmu. Tapi tidak mungkinkan tidak ada waktu untuk sekedar mengabari ?
bukankah tidak ada seseorang yang demikian sibuk sampai tidak sempat memberi
kabar kepada orang yang disayanginya. Itu kalau dia menyayangi. Kalau tidak
memang pantas kalau kamu sering lupa. Haha iya, melupakanku. Temanmu.
Teman yang tidak seharusnya kamu anggap
seperti sisir. Saat perlu saja kamu cari, dan saat tidak kamu butuhkan, kamu
abaikan dan kamu lupakan begitu saja. Seharusnya juga aku menyadari, mungkin
aku hanya pilihan disaat kamu bosan atau kesepian. Atau mungkin saat dirimu
sudah putus dengan pacarmu. Mungkin.
Ooh stop! Oke, tarik nafas* . Tidak.
Sebenarnya aku tidak ingin berfikiran buruk tentangmu. Karena kamu memang
temanku. Sudah seharusnya teman yang baik itu menanyakan kabar temannya.
Seperti kamu yang menanyakan kabarku. Bukan begitu ? iya, memang pada dasarnya
kamu baik. Baik sekali. Tidak ada yang
bisa mengalahkan kebaikanmu memang, sampai-sampai aku jatuh hati kepadamu. Hmm,
Iyakan teman ?
Begitulah, begitulah kerumitanku tentang
perasaan. Perasaan yang tumbuh dan perlahan tumbuh lagi kepada seorang teman.
Entahlah itu perasaan apa, dan pada intinya menghadirkan senang yang
keterlaluan. Iya , senangnya keterlaluan, jadi sakitnya juga keterlaluan.
Teman..,
Jika memang kamu datang hanya untuk
pergi, aku mohon... jangan datang lagi...
Jangan kamu ukir kembali, harapan yang
dulu pernah ada. Karena kesakitan itu bukan hanya muncul ketika orang lain yang
melukai. Tapi kesakitan juga muncul saat aku melukai hatiku sendiri. Ketika
kita harus merelakan seseorang yang kita sayang untuk bahagia dengan orang
lain. Disitulah, aku tahu, bahwa hidup apalagi dalam cinta itu selalu ada sebuah pilihan. Dan memilih itu sulit.
Dan jika memang kau ingin datang, tapi tidak bisa datang untuk
menjadi orang yang mencintaiku juga aku cintai, tidak apa-apa. Tapi datanglah
bersungguh-sungguh untuk menjadi seorang teman. Teman yang apa adanya dan tidak
memunculkan berbagai teka-teki yang selalu membuat aku penasaran dan
menebak-nebak.
Jika ingin pergi, pergilah dan jangan
datang lagi.
Jika ingin kembali, kembalilah dengan
sosok teman yang tidak pelit akan senyuman. Seperti dulu :’)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar