Hari ini, hari ini aku bahagia. Entah karena bertemu
mereka teman-teman karibku semasa SMA, atau karena diantara mereka ada dia.
Iyah, pertemuan tak disengaja hari ini ternyata masih saja membuka sebagian
memori diotakku saat bersama dia ‘dulu’. Masih mengingatkan aku dengan berbagai
cerita yang dulu sempat tertoreh.
Saat-saat seperti inilah, aku selalu sadar. Ternyata aku
belum bisa melupakan dia dan semua kenangan yang dulu pernah ada. Disaat-saat
bersama seperti tadilah yang membuat hatiku selalu ingin melangkah dan
memperjuangkan perasaan ini lagi agar mendapat tempat dihatinya, walau hanya
disudut, disudut hatinya. Tapi tak mengapa, setidaknya aku bisa, aku memiliki
walau hanya sebagian kecil dari hatinya yang aku miliki.
Dan aku juga sadar, ternyata selama ini aku terlalu
memaksakan untuk melupakan. Terlalu memaksakan untuk menghapus dan menganggap
semuanya seperti tidak ada apa-apa. Tapi nyatanya ? aku belum bisa melakukan
itu. Aku selalu bertekad, namun seketika tekadku melemah ketika aku kembali
bertemu dia. Apalagi jika pertemuan itu menghadirkan bahagia yang sangat luar
biasa bagiku seperti hari ini. Sudah lama aku tidak merasakan momen seperti
tadi bersama dia dan juga mereka. Dan terbawa sampai kerumah, masih saja aku
tersenyum-senyum sendiri jika mengingat hal tadi. Haha, andai dia tahu yaallah.
Jikalau bahagiaku itu sesederhana ini. Bertemu, bercerita, bisa tertawa
bersama.
Jujur saja, sebenarnya aku juga masih berharap. Tapi
selama ini aku tidak ingin terlihat berharap, walau sebenarnya aku berharap.
Berharap dia bisa membuka hatinya untukku dan melupakan masa lalunya yang dulu.
Ya Allah, aku masih berharap dia kembali. Aku ingin dia menjadi lelaki yang
baik, bisa lebih baik dan menjadi terbaik.
Ya Allah, jangan biarkan harapan ini terlalu besar,
jangan biarkan rasa sayang ini selalu bertahan jika memang engkau tidak
menakdirkan dia untukku. Aku sadar, setiap perjuangan pasti selalu membutuhkan
pengorbanan. Tapi apa pengorbananku selama ini belum cukup untuk bisa memiliki
hatinya ? bahkan pengorbananku agar melihat dia bahagia, walau aku harus
merelakan dia dengan orang lain. Semua itu seperti tidak terlihat dimatanya.
Yaah aku juga sadar, mungkin terlalu sulit baginya membuka hati untuk orang
yang tidak dia cintai. Namun aku ? aku terlalu... terlalu menyayanginya.
Yaallah, jika memang ini salah satu mimpi dari jutaan
mimpi yang ada dalam tidurku. Jangan biarkan mimpi ini menjadi mimpi yang
terlalu indah, yang membuatku ingin terus menggapainya. Jadikanlah mimpi ini
mimpi yang paling sederhana, sesederhana kebahagiaan hari ini, sesederhana do’a
yang selalu aku panjatkan, dan sesederhana caraku mencintainya. :’)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar