Mungkin ini adalah malam yang tepat
untuk aku mengungkapkan dan menceritakan apa yang ada didalam hatiku. Walaupun sesungguhnya
segala sesuatu yang aku rasakan tidak semua dapat aku terjemahkan dalam tulisan
ini. Aku hanya merasa, aku lega, aku
tenang bila aku sudah bercerita.
Ketika aku bercerita tentang cinta,
sahabat, impian dan cita-cita, yang terkadang semua itu sesungguhnya saling
berkaitan juga bertentangan. Namun kali ini sebuah impian, sebuah cita-cita
yang membuat aku sangat dilema, entah mengapa aku merasa seperti ini. apa
karena aku tidak bersungguh-sungguh ? karena usahaku kurang maksimal ? ambisiku
tidak kuat ? atau karena aku kurang semangat ?
Iya, semua pertanyaan-pertanyaan itu
bermunculan satu persatu memenuhi otakku. Rasa-rasanya jawabannya adalah “iya”
semua. Seharusnya aku tidak boleh begini, seharusnya aku optimis dan selalu
berprasangka baik dengan segala sesuatu yang sedang aku impikan dan
perjuangkan. Yaa seharusnya. Tapi inilah rasa, inilah hati, tidak bisa
dibohongi, tidak bisa dipungkiri.
Ya Allah, aku ingin menjadi seorang
penulis. Seorang penulis yang baik dan engkau ridhoi. Seorang penulis yang
menuliskan sebuah kisah, kisahku juga kisah-kisah mereka yang menjadikan
inspirasi untukku juga bagi pembacanya. Penulis
yang memaparkan segala sesuatu yang ada dalam kehidupan ini, sehingga saudara-saudara yang membaca bisa termotivasi. Penulis yang selalu
dinantikan karya-karya barunya dan dirindukan oleh pembacanya. Inginku tidak
muluk-muluk, aku tidak ingin terkenal, aku tidak ingin dikatakan hebat, akupun
tidak ingin menjadi penulis yang semata-mata termotivasi hanya karena materi.
Tapi aku ingin menjadi yang engkau ridhai.
Hanya itu.. sebab jikalau engkau
sudah ridha, semua jalan akan engkau permudah menuju apapun itu.
Tapi mungkin menjadi penulis
bukanlah jalanku. Apa karena aku belum mencoba ? iya, aku baru sadar, aku belum
pernah mencoba mengikuti perlombaan yang mungkin menjadi awal aku melangkah dan
awal tulisanku dibaca semua orang. Haha iya mungkin. Tapi entah mengapa, memang
inilah, ini yang membuat aku ragu jika aku ingin mengikuti ajang menulis
seperti itu.
Tidak seperti sahabatku, sahabatku
yang kreativ, yang pemberani, yang selalu ingin
mencoba, yang rajin dan tidak bermalas-malasan seperti aku. Dia sekarang telah menjadi penulis :)
Dia berhasil memulai langkah awal,
dan sampai saat ini dia masih terus merintisnya. Sungguh mengagumkan, aku
bangga, bangga kepada sahabatku itu, sungguh aku menyayanginya. Sejujurnya aku
ingin seperti dia. Tapi aku belum bisa, aku merasa aku belum mampu.
Ah, tapi tak mengapa. Bagiku
kesuksesannya adalah kesuksesanku juga. Aku yakin, dengan seiring
kesuksesannya, kesuksesankupun sedang berjalan menghamipiku sembari aku
mengejarnya. Aku yakin, aku yakin itu.
Allah maha adil dan maha penyayang.
Allah menyayangi sahabatku yang aku sayangi dan Allah pun juga menyayangiku
sama seperti Allah menyayangi sahabatku. Dan akupun yakin, sahabatku itu sangat
menyayangiku. Dan semoga dia juga merasakan rindu kepadaku disaat aku jauh
seperti saat ini.
Apapun yang terjadi, rasa syukur
kepada Allah swt harus tetap terucap dan tercurah dari hatiku. Kita harus yakin
! jalan terbaik akan segera menghampiri aku, kamu, dan juga mereka yang tetap
mau mendekatkan diri pada sang ilahi :’)
12/07/2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar