Selasa, 18 November 2014

Jangan Datang Lagi


Aku pikir cerita ini sudah berakhir. Aku pikir cerita ini tidak akan pernah kembali apalagi terulang. Jelas aku menginginkan hal itu. Menginginkan semuanya pergi, menghilang tanpa satu jejakpun. Tapi ternyata, kamu tiba-tiba datang, kamu mengingatkan aku kembali dengan berjuta-juta memori yang perlahan juga sedang aku  pendam.

Itulah tepatnya, beberapa bulan silam. Jujur, aku sedikit dikagetkan dengan messenger darimu itu. Entah bahagia tingkat apa yang aku rasakan pada saat itu, baru aku baca 1 kalimat dengan ungkapan “apakabar ?” senangnya sudah keterlaluan. Bahkan bukan hanya kalimat sesingkat itukan yang kamu tuliskan ? kita sempat mengobrol dengan panjangnya dibbm. Entah apa yang kita bahas. Tapi sekali lagi jika aku boleh jujur, itu sangat membuat aku bahagia. Rasanya aku tidak ingin mengakhiri pembicaraan yang terkesan aneh, lucu dan konyol itu. Menurutku tentunya, tidak tahu denganmu. Yaa begitulah, setelah sekian lama aku tidakmerasakan tawa lepas yang asal muasalnya itu darimu. Mungkin sudah hampir satu setengah tahunan kita tidak berkomunikasi. Jangankan komunikasi, menyapa saja tidak. Paling tersenyum, itupun hanya sesekali. Padahal bertemu hampir setiap hari, tapi memanglah aku sadar senyummu itu sangat mahal.

Yaa mungkin juga semahal waktu yang kamu berikan saat bbm kemarin itu. Hanya berlangsung beberapa hari, 2 entah 3, dan setelah itu kau kembali menghilang bagai ditelan dinosaurus. Lalu datang lagi, pergi lagi, datang lagi, pergi lagi, datang pergi datang pergi bak angin yang ditiup-tiup dan dihirup-hirup sang bumi. Haha ...

Aku tahu, kamu memang sibuk dengan pekerjaanmu. Tapi tidak mungkinkan tidak ada waktu untuk sekedar mengabari ? bukankah tidak ada seseorang yang demikian sibuk sampai tidak sempat memberi kabar kepada orang yang disayanginya. Itu kalau dia menyayangi. Kalau tidak memang pantas kalau kamu sering lupa. Haha iya, melupakanku. Temanmu.

Teman yang tidak seharusnya kamu anggap seperti sisir. Saat perlu saja kamu cari, dan saat tidak kamu butuhkan, kamu abaikan dan kamu lupakan begitu saja. Seharusnya juga aku menyadari, mungkin aku hanya pilihan disaat kamu bosan atau kesepian. Atau mungkin saat dirimu sudah putus dengan pacarmu. Mungkin. 

Ooh stop! Oke, tarik nafas* . Tidak. Sebenarnya aku tidak ingin berfikiran buruk tentangmu. Karena kamu memang temanku. Sudah seharusnya teman yang baik itu menanyakan kabar temannya. Seperti kamu yang menanyakan kabarku. Bukan begitu ? iya, memang pada dasarnya kamu baik.  Baik sekali. Tidak ada yang bisa mengalahkan kebaikanmu memang, sampai-sampai aku jatuh hati kepadamu. Hmm, Iyakan teman ?

Begitulah, begitulah kerumitanku tentang perasaan. Perasaan yang tumbuh dan perlahan tumbuh lagi kepada seorang teman. Entahlah itu perasaan apa, dan pada intinya menghadirkan senang yang keterlaluan. Iya , senangnya keterlaluan, jadi sakitnya juga keterlaluan.

Teman..,
Jika memang kamu datang hanya untuk pergi, aku mohon... jangan datang lagi...
Jangan kamu ukir kembali, harapan yang dulu pernah ada. Karena kesakitan itu bukan hanya muncul ketika orang lain yang melukai. Tapi kesakitan juga muncul saat aku melukai hatiku sendiri. Ketika kita harus merelakan seseorang yang kita sayang untuk bahagia dengan orang lain. Disitulah, aku tahu, bahwa hidup apalagi dalam cinta itu selalu ada sebuah pilihan. Dan memilih itu sulit.

Dan jika memang kau  ingin datang, tapi tidak bisa datang untuk menjadi orang yang mencintaiku juga aku cintai, tidak apa-apa. Tapi datanglah bersungguh-sungguh untuk menjadi seorang teman. Teman yang apa adanya dan tidak memunculkan berbagai teka-teki yang selalu membuat aku penasaran dan menebak-nebak.
Jika ingin pergi, pergilah dan jangan datang lagi.
Jika ingin kembali, kembalilah dengan sosok teman yang tidak pelit akan senyuman. Seperti dulu :’)