Rabu, 20 Januari 2016

AKU & Bukan Inginku

Siang ini nafasku terhenti beberapa detik. Saluran pernafasanku sepertinya tidak berfungsi dengan baik, bahkan sampai saat ini dadaku masih sesak. Ada sebab yang membuatku menjadi seperti itu, yaa beginilah akibatnya sangat buruk bagi  pernafasan juga otakku. Setelah beberapa menit yang lalu menemukan sebuah artikel yang muncul diberanda facebookku, yang dibagikan oleh pengguna facebook yang lain.
Ya Rabbi, menghela nafas berjuta-juta kali sembari aku beristighfar. Seburuk itukah berada diposisiku saat ini? posisi yang tidak pernah aku inginkan, posisi yang tidak pernah aku duga bahwa aku akan mengalaminya, posisi yang bahkan dulu sangat aku benci, sangat aku hindari dengan aku teramat kuat menjaga diriku sendiri, posisi yang sesungguhnya itu bukan aku, posisi yang entahlah mengapa saat ini terjadi kepadaku.
Aku kembali merenung tiada guna, kembali berfikir tiada henti sampai aku lelah, sampai tidak dapat berkata apapun. Hanya air mata yang menetes yang masih menjadi sisa dipipiku saat ini. Aku masih terisak, aku berteriak serak memanggil Tuhan. Bertanya berkali-kali dengan pertanyaan yang sama. Ya Tuhan... apakah ini takdirku? mengapa engkau menakdirkan ini padaku? mengapa harus aku? mengapa kau tidak membiarkan aku untuk terus berjalan diatas benar? mengapa engkau memberi belokan itu? mengapa belokan itu berisi salah? Aku terisak tanpa air mata, seakan memprotes segala sesuatu yang telah Tuhan takdirkan untukku.
Tuhan, ini bukan yang aku mau. Ini sama sekali tidak aku inginkan. Tidak pernah tersirat sedikitpun dalam benakku, bahwa aku menjadi perempuan lain yang masuk kedalam sebuah hubungan yang telah berikrar, menjadi perempuan lain dalam ikatan suci yaitu sebuah pernikahan. Mengapa engkau membiarkan aku tertarik kesana, mengapa engkau membiarkan dia menarikku jauh kesana, mengapa engkau tidak membantukku untuk mengontrol perasaanku? mengapa engkau membiarkanku untuk terus masuk? mengapa ada dia? mengapa harus dia yang hadir? mengapa harus dia yang membantukku untuk bangkit disaat aku terpuruk dengan cinta masa laluku? mengapa harus dia yang menggantikkan masa laluku, sementara dia tidak mungkin ada untuk masa depanku? mengapa harus dia yang memaksaku berhenti berharap dari cinta lamaku? mengapa harus dia yang engkau takdirkan untuk leluasa mengotak-atik perasaanku pada saat itu? mengapa kau takdirkan benteng hatiku yang begitu keras, runtuh oleh seorang lelaki yang sudah berstatus?
Tuhan, engkau yang paling mengetahui perjalanan hidupku, engkau dan 1 sahabatku yang tahu bagaimana aku menikmati setiap proses hijrahku. Itu bukan mudah kan? dari aku jatuh, aku merangkak, mencoba berdiri walau terkadang kembali terjatuh, tapi terus bangkit, berjalan-pelan, menikmati setiap proses susah payah dengan suka duka. Masih teringat betul semua itu di otakku. Lalu sangat disayangkan runtuh hancur begitu saja.
Engkau pun mengetahui Tuhan, bagaimana perasaanku berproses sampai pada akhirnya aku jatuh hati kepada lelaki itu. Aku menolak begitu keras. Kau tahu sikap apa yang aku ambil disaat dia terus menggangguku. Aku sama sekali tidak ingin. Tapi Tuhan, hatiku luluh oleh lelaki seperti dia. Entah laki-laki macam apa, yang selalu membicarakan komitmen, namun tidak dapat setia dengan komitmen yang telah dia buat.
Mereka, sahabat-sahabatku, keluargaku, menyalahkan aku. Padahal mereka tahu apa yang sebenarnya terjadi. Apalagi isi semesta yang tidak tahu apapun tentang kami, lalu tiba-tiba mengetahui perkara ini? Apakah aku tidak buruk dimata isi semesta? Apakah aku tidak sehina yang semesta kira? Meraka akan memojokkanku, akan membenciku, akan menganggap aku sebagai perusak rumah tangga orang. Sementara dia? dia laki-laki yang sampai saat ini memegangiku, dia laki-laki yang sampai saat ini memintaku agar terus bertahan, agar terus bersabar. Apa ada yang menghakimi dia? apa akan ada yang menyalahkan dia? tidakkan? semuanya akan berakibat padaku.
Tuhan, jika dapat waktu berputar kembali ke masa lampau, tidak akan aku rela telingaku mendengar segala sesuatu yang dia ceritakan tentang kehidupannya. Kehidupan dia dari masa anak-anak, remaja hingga dewasa. Tentang masa lalu nya, dan tentang apa yang saat ini dia jalani, menikahi seorang perempuan yang tidak dia cintai dan tidak dia inginkan...

Jika aku



Senin, 18 Januari 2016

SALAH

Hari-hariku saat ini menjadi sangat aku benci.
Ditambah dengan orang-orang disekelilingku yang terlihat sangat menyebalkan dan memuakkan dimataku. Makinlah dipenuhi rasa benci.
Entahlah apa yang terjadi padaku saat ini.
Segala rasa yang sudah jelas salah selalu bergejolak didalam dada, salah itu tak ingin meninggalkanku pergi, dia selalu hinggap merusak jiwa, mempengaruhiku agar terus menikmati ketidakberesan ini.
Dan ketika aku yang memutuskan pergi, salah itupun mengikuti, terus dan selalu mengikuti seakan dia tidak rela jika aku pergi, berlari meninggalkannya.
Aku merangkak berderai air mata, ada banyak jemari-jemari kecil disana, berada didepanku yang berusaha menggapai tanganku yang aku gunakan untuk merangkak.
Pedih, perih, berdarah-darah, aku sudah sangat kesakitan, tanganku sudah kucoba ku angkat keatas untuk menggapai jemari itu, namun rasanya seperti jauh sekali, rasanya sangat sulit ku gapai, padahal berada didepanku.
Aku menangis lagi, mereka masih mengulurkan jemarinya.
Aku terus mencoba meraih jemari-jemari itu. Aku masih semangat, aku masih ingin terus meraih jemari itu hingga aku menggenggamnya. Dan dituntunnya berjalan, hingga aku menemukan jalan pulang.
Namun celakanya, aku kelelahan, aku terlalu lemah, sakitku parah. Sudah separah ini, seharusnya aku lebih berusaha lagi untuk bisa berdiri terlepas dari salah dan menggapai jemari yang menolongku. Dan apalah daya, aku masih berada disitu.
Luar biasanya, jemari itu masih ada, mereka tidak pernah pergi, mereka menyadarkanku, mereka ingin aku bangkit, hidup dengan ceriaku seperti dulu yang pernah aku lukis setiap hari.
Aku bisa, aku harus bisa, aku pasti bisa. Aku akan terus berusaha. Jangan lelah karenaku. Aku disinipun kelelahan, kesakitan, dan kalian yang selalu mengobatinya. Kalianlah insan-insan terbaik pilihan Tuhan yang diutus untuk menjagaku. Iyakan?Maafkan. Maafkan egoku, maafkan hatiku yang entah mengapa sekarang membatu, tak terarah, tak menentu. Hatiku terluka parah, jiwaku sakit, karena diriku sendiri dan karena dia...
 SALAH yang merusak jiwa.

Senin, 11 Januari 2016

-------

Mengapa harus dia?
Mengapa harus aku?
Mengapa baru sekarang?
Mengapa?