Wahai
sahabat hati, dimana dirimu ? sudah lama aku tak nampak, sesekali kita hanya
bertegur sapa, tersenyum, saling menanyakan kabar, saling mengatakan rindu,
lalu tiba-tiba kita sama-sama menghilang.
Sahabat, tahukah dirimu ?jika disini aku sangat
merindukanmu, sangat mengharapkan hadir dirimu saat bahagia ataupun sedihku,
aku ingin sekali memelukmu, bercerita ini itu semua tentangku juga tentangmu,
tentang mimpi-mimpi kita yang ingin kita rangkai bersama.
Dan sahabatku,
tahukah dirimu ? begitu bangganya diriku melihat perubahanmu saat ini, iya
bangga dan bahagia. Aku tidak perlu lagi khawatir berlebihan kepadamu, seperti
dulu. Aku hanya cukup menitipkanmu kepada Allah lewat doa-doa yang aku harap
akan sampai kepadamu. Dan justru saat ini, malah aku begitu khawatir pada
diriku sendiri. Entahlah karena apa, sulit dan malu rasanya ingin bercerita
kembali tentang itu.
Aku tahu,
ketidakdapatan hadirmu ataupun hadirku disetiaap saat, setiap waktu yang selalu
kita butuhkan itu bukan karena keinginan kita, bukan karena hati kita yang
telah berjarak, namun memang karena kesibukanmu dan kesibukanku yang membuat
kita terpaksa harus melangkah sendiri-sendiri seperti saat ini.
Dan kamu
tahu ? jujur, hatiku sedikit cemburu kepada teman-temanmu disana yang selalu
ada menemani disetiap harimu, yang bisa membuatmu lebih bahagia, menyaksikan
tawa senyummu, yang bisa membuatmu lebih nyaman, yang lebih bisa membuatmu menjadi lebih baik dibanding aku dan iya aku
cemburu… aku cemburu sayang… maaf, maafkan aku.
Adakah engkau
disana masih merindukan aku ? merindukan hadirnya diriku ? adakah dirimu masih
menggenggam erat tanganku dari kejauhan ? menggenggamku dengan doa ? ada ?
maaf, jika aku sedikit berprasangka tidak baik padamu sahabat. Aku hanya merasa
kita jauh saat ini, kita seperti melepas genggaman kita pelan-pelan. Dan aku
tidak ingin itu terjadi, aku tidak ingin kita saling pergi.
Sahabatku sayang…
Aku rindu,
aku rindu padamu, dan aku, aku menyayangimu… dan maafkan pengakuanku.